Crystal Baccarat_Baccarat is full of leisure_Baccarat Online_Baccarat simple best strategy

  • 时间:
  • 浏览:0

Baccarat Bankernamun Baccarat Bankertenang saja, dunia belum berakhir. Kamu hanya butuh Baccarat Bankerpenyaluran emosi yang sehat selama patah hati. Salah satunya adalah menuangkan perasaan menjadi tulisan. Bahkan bisa diolah menjadi buku yang diterbitkan lo! Bagaimana caranya? Untuk menjawab pertanyaan itu, Hipwee mengadakan sesi Instagram live bersama editor Penerbit Elexmedia, Farah. Yuk simak selengkapnya obrolan Hipwee berikut ini.

Proses menulis bisa menjadi self healing atau penyembuhan yang baik. Dengan mengolah pikiran abstrak menjadi tulisan yang nyata, pelan-pelan kita bisa mengurai rasa sakit hati. Yang dibutuhkan hanya laptop atau komputer untuk menulis, bisa juga menggunakan buku dan pensil. Cara ini bisa menjadi distraksi yang bagus untuk kita. Apalagi di tengah pandemi, kita memang belum bisa keluar rumah untuk curhat pada teman atau sekadar jalan-jalan untuk melupakan rasa sakit hati. Jadi lebih baik menulislah~

Cobain deh, prosesnya tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang via www.hipwee.com

Awalnya kamu bisa menulis jurnal harian. Lalu bisa dikembangkan jadi puisi, kumpulan cerpen, bahkan novel yang menarik. Bagaimana caranya? Kamu bisa menulis fiksi berdasarkan pengalaman patah hati yang pernah dirasakan. Dari ide itulah kamu bisa mengembangkan tokoh, latar, dan alur ceritanya. Mungkin memang terdengar agak rumit. Tetapi, awalnya menulislah dulu tanpa berpikir macam-macam. Yang penting tulisanmu selesai.

Emosi seolah terkuras saat patah hati. Rasa sedih, menyesal, marah, dan kecewa seolah bercampur menjadi satu. Hati terasa kosong sementara pikiran terus bekerja. Supaya lega, tuangkan saja pikiranmu dalam tulisan. Tulislah apa pun yang terlintas dalam kepala. Mulai dari perasaanmu, kenangan manis yang belum bisa dilupakan, sampai ketakutan kalau-kalau nggak bisa menemukan jodoh lagi di masa depan.

Setelah itu, kamu bisa mengambil jeda sejenak. Tinggalkan tulisanmu selama beberapa jam atau beberapa hari. Kemudian bacalah lagi dengan pikiran yang sudah lebih jernih. Dengan begitu, kamu bisa menemukan kekurangan dalam tulisanmu. Mungkin ada yang kurang logis, kurang lengkap, atau kurang lainnya. Jadi kamu bisa memperbaikinya agar lebih enak dibaca. Tetapi nggak perlu sampai sepenuhnya sempurna karena proses menulis malah bisa terhambat. Yang penting selesaikan tulisan menjadi buku, lalu kamu bisa beranjak ke langkah selanjutnya, yaitu menghubungi penerbit.

Wajar kalau kamu takut mengirim naskah yang sudah jadi ke penerbit. Sebab ada kemungkinan naskahmu bakal ditolak. Tetapi, bukankah nggak ada salahnya untuk mencoba? Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, datang langsung ke penerbit dengan membawa naskah yang sudah dicetak. Lalu yang kedua, kirim saja naskah itu ke e-mail penerbit. Jangan lupa untuk menulis pengantar yang sopan pada mereka. Kemudian kamu hanya tinggal menunggu balasan.

Banyak orang yang pernah mengalami patah hati, mungkin kamu termasuk salah satunya. Bagaimana rasanya saat itu? Barangkali sedih dan sakit hati bercampur jadi satu. Wajar kalau kamu menghabiskan banyak waktu untuk menangis. Hari demi hari juga berlalu dengan hampa. Selama patah hati, seolah rasanya sulit sekali untuk bangkit lagi.

Kalau lancar, naskahmu akan diterbitkan. Pasti menyenangkan sekali rasanya! Tetapi seandainya ditolak, nggak apa-apa. Kamu bisa memperbaikinya lalu mengirimnya lagi ke penerbit. Jangan menyerah ya. Buktikan kalau patah hati yang kamu rasakan bisa diolah menjadi karya yang hebat.