Indonesian Sports_The rules of baccarat_Sports Betting Network_Online betting URL_Bodog Sports Account Website

  • 时间:
  • 浏览:0

BermFootball oddsulFootball oddsa keFootball oddstika saya masih SMP, saya mulai ada keiFootball oddsnFootball oddsginan untuk membentuk kelompok pertemanan atau geng. Alasannya selain takut sendirian yaitu karena ingin terlihat keren, takut diremehkan orang, dan sebagai 'tameng' saya jika tertimpa masalah. Padahal sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk membuat geng, kalau berteman ya berteman saja.

Dahulu, saya belum benar-benar memahami arti kedua kalimat di atas. Ditambah waktu itu saya masih belum mengenal karakter diri sendiri. Saya juga berpikir kalau kita akan disegani orang jika punya banyak teman.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Tetapi karena saya berkepribadian introvert dan pemalu, butuh waktu untuk bisa akrab dengan orang lain. Saya berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan anak-anak lain yang mayoritas ekstrovert. Selain agar bisa diterima, saya melakukan ini dengan harapan bisa menemukan 'the chosen one' untuk bergabung dengan saya, atau minimal saya bisa direkrut masuk ke geng mereka. Dulu saya berpikir kalau memiliki kepribadian introvert adalah hal yang memalukan, jadi harus diubah. Obsesi saya untuk membuat geng masih bertahan hingga mau lulus SMA.

Sifat buruk saya yang lain, ketika sudah nyaman bergabung satu kelompok tertentu, saya tidak mau memperluas relasi dengan teman yang lain. Jadi ketika masa sekolah, relasi saya kurang dan hanya itu-itu saja. Hal ini juga yang masih saya sesali hingga hari ini.

Namun ternyata Tuhan punya rencana lain, saat kuliah, saya dipertemukan dengan beberapa sahabat baru untuk mengisi rasa kesepian saya. Bahkan saya bertemu dengan salah satunya di hari pertama orientasi mahasiswa baru. Kebetulan kami berdua punya kesamaan minat, sehingga mudah bagi kami untuk langsung akrab. Sahabat-sahabat baru saya sangat baik dan mau menerima saya apa adanya. Ketika saya berada dalam posisi sulit, mereka tetap bertahan di samping saya. Namun mereka bukanlah sahabat saya yang pertama. Saat di SMP, saya sudah punya seorang sahabat. Kami juga masih berhubungan hingga sekarang.

Setelah lulus SMA, saya memutuskan tidak ingin membuat geng lagi selamanya. Saya juga sudah siap mental jika suatu saat harus mengulang pengalaman pahit saat SMA. Saya juga tidak lagi polos dan mudah percaya dengan orang lain, serta selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Namun, perasaan takut tidak bisa punya teman masih menghantui saya setiap hari.

Tetapi geng-geng buatan saya tidak pernah ada yang bertahan lama. Momen paling 'nyesek' yaitu ketika saya harus berpisah dengan geng SMA. Saya memutuskan untuk menjauhi mereka setelah menyadari kalau teman-teman saya ternyata 'palsu'. Mereka tidak lagi peduli kepada saya dan selalu merahasiakan segala hal di belakang saya. Setelah perpisahan itu, saya jadi sering berpikir negatif tentang diri sendiri. Bahwa saya tidak pantas dicintai dan dihargai, tidak akan pernah bisa punya teman lagi, dan sebagainya.

"Sahabat terbaik adalah diri kita sendiri."

"Kamu harus bisa menghargai dirimu sendiri dulu kalau mau dihargai orang lain."

Akhirnya saya baru paham di mana letak kesalahan saya. Selama ini saya terlalu egois dengan diri sendiri, serta kurang bisa menerima dan menghargai diri sendiri. Parahnya lagi, saya belum mengenal siapa dan bagaimana diri saya. Saya juga belajar bahwa kita tidak perlu punya banyak teman supaya disegani orang. Teman yang baik bukanlah teman yang selalu bersama kita, tetapi teman yang tetap bertahan bersama kita dalam keadaan sulit.

Sebanyak apapun teman yang kita punya, jika kita belum mengenal diri sendiri, maka hanya akan membuang-buang waktu saja. Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana cara kita memandang dan menerima diri kita sendiri.

Tulisan ini sebelumnya pernah diterbitkan di Kompasiana.