Gaming Forum_The strongest baccarat play_Baccarat Super and How to Play_betvicor_Football early

  • 时间:
  • 浏览:0

BaBali Casinoli CasinoBali CasinodindBali Casinoa yang berada di depan KiBali Casinola segera angkat suara, “Cepat sini, La. Aku Dinda,”

“Coba kamu lihat sana.”

Tanpa berpikir panjang lagi, Dinda yang masih di luar rumah segera mengambil ponselnya dari tas selempang yang dipakainya. Dia menyalakan fitur kamera. Lalu memotret Kila dan orang yang mirip sekali dengannya itu.

Flash kamera menyala menyilaukan.

Pukul 10.00 malam. Keheningan masih saja menyelimuti hari ini. Padahal Dinda sudah bersama Kila sekarang. Kila berhenti sejenak hendak mengambil remot yang tergeletak di karpet. Kaki kiri dan kanannya kemudian membentuk jarak. Tubuhnya membungkuk dengan tangan yang menjulur meraih benda menyerupai balok itu. Saat mendapatkannya, arah pandang Kila melewati selangkangan. Tidak sengaja ia melihat ada seseorang berdiri menatapnya. Bukan Dinda. Spontan Kila pun kembali dalam posisi tegak.

Telepon masih berdering menunggu jawaban. Agak sedikit cukup lama, Dinda pada akhirnya mengangkat telepon.

“Kok cepat banget sampainya?” selidik Kila.

Kila menoleh melihat Dinda yang di belakangnya mundur beberapa langkah. Kila sedikit bergerak, bermaksud ikut mundur, tetapi tidak jadi.

“Lama banget sih buka pintunya,” sambut Dinda kesal.

Akan tetapi Kila malah semakin mematung. Kepalanya terasa berat sekali. Tubuhnya gemetar. Matanya menyiratkan ketakutan yang sangat berarti.

“Hah? Tumben,” ucap Dinda semakin heran, “Biasanya kan kamu paling berani. Biasanya kan kamu independen banget,” sambungnya.

Dinda yang saat ini sedang di dalam kamar tiba-tiba sudah berada di belakang Kila.

Kila mengernyitkan dahinya, “Masih aja percaya mitos.”

“Dinda?”

Kaki Kila bergerak, melanjutkan perjalanan menuju tempatnya biasa beristirahat. Dinda mengikuti langkah Kila sambil sesekali menengok ke arah kanannya. Di sana ada jendela yang gordennya tidak pernah kututup. Jendela itu menghadap ke kebun yang lumayan luas. Pada tengokan ketiga Dinda melihat ada perempuan, mengenakan gaun putih tulang, namun dekil. Muka perempuan itu samar, nyaris ditutupi seluruh rambutnya yang kusut. Dinda bergidik ngeri. Lantas ia beringsut lari sampai mendorong badan sahabatnya.

“Halo, Kila. Ada apa?”

“Nggak ganti baju dulu?” tawar Kila.

“Nggak ada,” ucap Dinda bohong. “Lah kamu sendiri kenapa suruh aku ke sini?” tanyanya balik. Keduanya lalu duduk di atas kasur.

“Iya, kali ini beda, Din. Yaudah sih, buruan ke sini!” perintah Kila.

Dinda mengedarkan pandangannya seraya berkomentar, “Lagian kamu, ngapain coba beli rumah yang jauh dari keramaian.”

“Dikasih tau malah ngeyel. Yaudah sih,”

“Kamu takut kenapa?”

“Biar kamu cepat buka pintunya. Males aku nunggu,” jawab Dinda ketus. “Ngomong-ngomong, aku ngantuk nih,”

Dinda membunuh Kila. Darah Kila mengucur sangat deras, membasahi seluruh pakaiannya. Mengotori kamar itu. Tubuh Dinda juga tidak ketinggalan amis, bau darah segar dari sahabatnya sendiri.

Dinda terbangun, “Siapa tuh?”

“Di rumah. Memangnya kenapa?” Dinda merespon pertanyaan Kila dengan heran.

Dinda terus mencari keberadaan sahabatnya itu. Setiap ruangan dia susuri. Ketika Dinda berada di dapur, dia mendengar rintihan Kila.

Dinda masih mengendap-endap. Dia curiga Kila berada di dalam kamar yang pintunya tertutup. Kemudian Dinda membukanya perlahan. Akan tetapi tidak ada Kila. Yang ada cuma makhluk mengerikan yang tadinya sempat berpura-pura menjadi dirinya.

Dinda kaget melihat hasil jepretannya. “La, lihat ini,” kata Dinda seraya menunjukkan layar ponselnya.

Kaca pecah berantakan. Dinda mengambil batu lain untuk menghancurkan sisa-sisa kaca yang masih ada di kusen jendela. Maksudnya ialah agar tubuhnya bisa masuk ke dalam rumah dengan aman.

Tanpa basa-basi Dinda meletakkan telapak tangannya di bahu Kila, lalu menjawab, “Aku memang mau ke sini dari tadi. Waktu kamu nelepon, aku di dalam taksi.” Kemudian ia melepas pegangan tangannya dari pundak Kila yang terasa kaku. “Kamu nggak ajak aku masuk?”

“Kenapa, Din?”

“Di dekat pemukiman mahal, Din,” jelas Kila memberi alasan.

“Besok-besok paling bakalan ramai juga,”

“Kapan kali.” Dinda bangkit dari duduknya. Ia menghampiri sebuah kursi yang menjadi paket meja kerja minimalis milik Kila. Dinda menggeser posisi kursi itu. “Pamali kursi dihadapkan ke pojok ruangan.”

“Din, kamu di mana?”

Betapa terkejutnya Kila melihat siapa perempuan itu. “Dinda?”

“Nanti saja aku cerita di kamar.”

Langsung saja, Kila menghamburkan tubuhnya ke pintu depan. Televisi masih menyala, tetapi kali ini malah tidak ada tayangan apapun. Hanya bintik-bintik putih, gangguan. Suaranya kresek-kresek. Meski demikian, Kila membiarkan penampilan televisinya. Kila justru acuh terhadapnya dan terus melanjutkan pijakan kakinya.

“Diiinnn, tolong aku,” suara Kila lemah.

Dinda sangat hati-hati melangkahkan kedua kakinya.

“Jangan, La. Aku Dinda. Dia bukan aku!” cegah Dinda yang lain.

Tidak ada jawaban.

“Oke.”

Setelah membuka, Kila melihat ada sosok gadis lain berambut panjang. Ia mengenakan dress warna khaki yang begitu pas dengan tubuhnya yang jengking dan langsing. Sangat cantik rupa lekuk tubuhnya, meski ia sedang memunggungi Kila. Perempuan yang memiliki tinggi hampir sama dengan Kila itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Kemudian ia mulai menoleh kala Kila berdeham kecil.

Dinda menengok ke dalam rumah dari balik badan Kila, “Ada siapa?”

Telinga Dinda terus berusaha mencari asal suara Kila. Kakinya memijak lantai dengan begitu pelan. Dia melihat pisau dapur di dekat sink. Dinda mengambilnya, buat jaga-jaga. Siapa tahu pisau itu dapat dijadikan senjata untuk melindungi dirinya dan juga Kila.

Dinda menyesal. Dia menangis sejadi-jadinya. Kalau saja dia lebih cepat datang, kalau saja dia tidak membuat Kila menunggu terlalu lama. Mungkin kejadian ini tidak pernah terjadi. Dinda pun depresi hingga warasnya hilang. Dia menjadi gila.

“Kamu ngapain nelepon aku?” Kila mengalihkan pembicaraan sembari mengecek ponselnya.

Telepon langsung dimatikan tanpa permisi. Selama berbincang barusan rasa ngeri sempat hilang dari baying-bayang Kila. Tapi setelahnya rasa itu kembali hadir membangunkan bulu halus di sekujur tubuhnya.

Nyata, di sana Kila melihat dirinya sedang berdiri dengan ekspresi ketakutan. Namun penampakan seseorang di belakangnya jauh lebih menarik perhatiannya. Di sana ada perempuan berambut panjang sepinggang. Ia mengenakan pakaian putih panjang dengan banyak bercak darah yang mengotorinya. Menatap nanar ke arah Kila dan Dinda.

Kila mendekati Dinda seraya memerhatikannya. Dari pangkal kaki hingga ujung rambut tidak ada yang terlewat. Perempuan itu benar-benar Dinda.

Sedikit lagi gadis itu sampai di depan pintu, tetapi langkahnya berhenti sebentar karena mendengar ponselnya, seperti ada panggilan suara. Malas rasanya balik lagi ke kamar untuk mengambil ponsel yang tertinggal di atas ranjang. Dia lebih memilih untuk segera menyambut orang yang sedari tadi masih menunggu dari balik pintu.

Kamis malam ketika menuju kamar, Kila merasakan begitu banyak keanehan yang merayapi perasaannya. Tidak seperti biasanya Kila merasakan hal seperti ini. Padahal dia sudah terbiasa untuk hidup mandiri sebagai seorang kaum urban. Karenanya Kila memutuskan untuk menelepon salah seorang sahabatnya.

Gadis berusia 25 tahun itu mulai percaya dengan penjelasan Dinda. Kila langsung meraih tangan Dinda sambil berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Setelah ia pastikan tubuh mereka sudah berada di dalam, lantas Kila segera menutup pintu dan menguncinya.

Kini pintu kembali terbuka. Kila begitu kaget saat melihat Dinda berdiri di sana. Mengenakan dress warna khaki, persis dengan Dinda yang lain, Dinda yang sekarang masih berada di kamarnya.

“Aku nggak ngerti sih. Pokoknya takut aja sendirian.” Kila mulai buka suara.

“Kila? Kamu di mana?”

Air mata Dinda tidak kalah banyak, mengucur seiring darah yang terus mengalir. Sementara sosok perempuan itu justru berdiri di depan jendela kamar dengan senym seringai ke arah Dinda.

Pikiran Dinda sudah kacau. Dinda mencari benda di sekelilingnya yang sekiranya cukup keras. Dia menemukan batu sebesar dua kepal tangannya. Diangkatnya batu itu, lalu dilemparkan dengan kencang ke arah jendela kaca tanpa teralis.

“Nggak usah dah.” Dinda menutup mulutnya yang menguap menggunakan punggung tangannya. Ia langsung mendekati ranjang lalu merebahkan tubuhnya. Perlahan matanya mengecil kemudian tertutup rapat.

Dinda masih berusaha mendobrak pintu. Sekuat tenaga ia mendorong pintu itu dengan kekuatan wanita yang dimilikinya. Beberapa kali mencoba, hasilnya masih sama. Pintu itu tertutup amat rapat. Justru lengannya nyeri karena benturan dengan daun pintu tersebut.

Berkat foto itu, Kila jadi tahu. Siapa Dinda yang sebenarnya. Baru saja Kila lari akan keluar rumah, tetapi pintu sudah tertutup dan tidak bisa terbuka lagi. Listrik kemudian ikut padam.

Kila masih tidak berani bergerak. Dia masih belum tahu mana Dinda yang sebenarnya. Tapi dia tetap mau melihat apa yang ingin ditunjukkan Dinda yang sedang di depannya. Dari posisinya berdiri sekarang, dia masih bisa melihat ponsel itu dengan sangat jelas.

“Iya, La. Aku pasti menolongmu. Tunggu aku!” batin Dinda.

Kila mencari lagi sosok yang baru saja dilihatnya, namun tidak ada. Dia memutuskan untuk tidak memikirkan makhluk tadi. Dia memilih untuk menyalakan televisi agar memberikan kesan ramai. Namun apa yang dilakukannya tetap saja gagal memenuhi maksudnya. Merasa kesal, Kila melempar remot itu ke atas sofa lalu membiarkan televisi dalam keadaan hidup.

Tanpa sedikitpun rasa takut, Dinda segera mendekati makhluk itu. Pisau di tangannya ditusukkan ke setiap bagian tubuh sosok tersebut. Bertubi-tubi Dinda menusuknya. Namun betapa terpukulnya diri Dinda kala melihat korbannya telah berubah, sebagai Kila.

Dinda tampak risih menyaksikan tingkah Kila yang aneh, “Kenapa, La?” tanyanya. Kerutan kulit di antara alisnya menjelaskan bahwa ia betul-betul bingung.

Tak berselang lama dari itu, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Kila buru-buru beranjak dari kamar. Detak detik jam dinding amat-sangat terdengar begitu jelas. Suasananya sepi dan dingin. Bel masih nyaring tertangkap gendang telinga.

Dinda hanya diam seolah tidak peduli dengan kelakuak Kila yang sangat tidak wajar ini. Sebab jarang sekali Kila marah diakibatkan hal sepele.

Teriakan Kila sudah tidak terdengar. Dinda semakin khawatir dengan kondisi Kila bersama makhluk astral yang sepertinya mengancam diri mereka. Suasana bertambah kalut.

“Ya, tapi kan daripada di sini. Jarak satu rumah ke rumah lainnya jauh banget,”

Dinda dan Kila berupaya membuka kembali pintu tersebut. Nihil. Tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Keduanya berteriak semaunya, sekencang-kencangnya. Mengharap ada yang mendengar lalu membantu mereka. Percuma, karena situasi kala itu benar-benar sepi. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10.45 malam.

“Siapa, La?” teriak Dinda yang lain dari dalam kamar.

“Kamu kenapa, La?” Dinda tidak kalah terkejut melihat respon Kila melihat dirinya.

“KILA?!” Teriak Dinda, “Kamu masih di dalam, kan?” sambungnya lagi.

Tatapan Kila tampak kosong, tertuju pada meja kerjanya yang penuh dengan buku dan laptop yang layarnya terbuka namun mati.

Kila membiarkan sahabatnya beristirahat. Ingin rasanya ia ikut tidur, namun Kila belum mengantuk. Sehingga Kila mencoba untuk mengecek sosial medianya. Sekian menit berlalu, terdengar suara bel.

Gadis itu bingung menjelaskan tentang perasaannya saat ini. Sebab dia sendiri saja tidak mengerti mengapa bisa merasa ketakutan. “Aku takut,” jawabnya singkat.

“Lah, mana tau. Kan belum aku lihat,”

Kedua sosok bernama Dinda ini kemudian saling menatap satu sama lain. Keduanya tampak bingung.