Thai Chess_Baccarat glass_Baccarat winning skills_Indonesia online casino

  • 时间:
  • 浏览:0

SIIndonesia's most popular online gambling gamendonesia's most Indonesia's most popular online gambling gamepopular online gambling gameadarkah kamIndonesia's most popular online gambling gameu, kalau dengan mengumbar keluhan dan sindiran tanpa alamat itu kamu sudah menyebarkan aura tak menyenangkan ke sekitarmu?

“Cemen banget sih bisanya nyindir aja.”

Kamu tak bisa menyalahkan mereka, kesimpulan seperti itu kerap tak bisa dihindarkan.

Tak ada yang suka melihat keluhan bertubi-tubi yang bisa mempengaruhi suasana hati. Tak ada ada yang doyan merasa tersinggung di wadah seperti sosial media, yang isinya bisa dilihat siapa saja. Wajar apabila kamu kemudian dijauhi.

Setelah amarahmu kamu sampaikan, setelah sumpah serapahmu kamu luapkan, apakah perasaanmu jadi baikan? Belum tentu juga ‘kan ya?

Dengan banyaknya sosial media yang ada, kesempatan untuk berkomunikasi dan curhat colongan di dunia maya semakin besar. Banyak hal yang tadinya disimpan sendiri sekarang jadi bahan konsumsi khalayak luas. Nggak jarang, kita terlena oleh segala kemudahan menyampaikan isi hati di sosial media, lalu menyalahgunakannya. Salah satunya dengan menjadikan sosial media sebagai “tempat sampah” untuk meluapkan kekesalan, namun tanpa menyebut jelas tertuju pada siapa kebencian itu.

Akan membuatmu berasumsi semua menyindir dirimu via favim.com

Bukan tidak mungkin masalahmu menjadi meluas, yang tadinya tak cocok dengan satu orang saja jadi merembet ke orang-orang lain juga. 

“Aku malas baca updatean si Rizki lagi, isinya nyinyir melulu. Jadi ikut stress bacanya… Aku mute aja deh dia!”

“Hidup kok ngeluh terus kerjanya… Ngenes yah!”

Ingat pertikaian Taylor Swift dan Nicki Minaj? Semuanya dimulai karena yang satu melakukan no mention, yang lain merasa kesindir, lalu overreacting.

Apakah dengan menyindir tanpa tujuan jelas itu kemudian menyelesaikan masalahmu? Ternyata tidak. Orang yang kamu sindir bisa saja tak merasa atau tak mengerti. Permasalahanmu dengannya tak akan kunjung bisa diselesaikan. Kamu hanya akan tenggelam lebih dalam kegusaran yang tak tersampaikan. Kalaupun yang kamu sindir mengerti, masalah yang tadinya bisa dibicarakan secara dewasa akan memburuk, membawa hubunganmu semakin tak dapat diselamatkan.

Ketika kamu terbiasa menyindir orang dengan intensi buruk, lambat laun akan ada pikiran buruk yang selalu menggelayutimu. Jika sudah begini, persepsimu sah teracuni. Kamu jadi selalu insecure dan penuh curiga, selalu berasumsi buruk kepada siapa saja. Kamu bepikir semua orang perpikiran sama: hobi menyindirmu tanpa menyebut untuk siapa tujuannya.

Selain itu, coba bayangkan pandangan orang, tentang kamu yang melulu meluapkan kemarahan di media sosial. Tanpa ada keberanian untuk meluruskan kepada siapa kebencian itu ditujukan.

Yang hendak kamu sindir adalah seorang teman yang membuatmu kesal karena berisik saat di kantor atau tempat umum. Tapi terpikirkah olehmu, siapa saja yang dapat terkena dampak sindiranmu? Bisa jadi si teman-bersuara-sumbang ini malah tidak membaca cemoohmu. Justru malah teman-temanmu yang lain–yang kebetulan juga hobi bersenandung saat bekerja–yang bisa tersinggung.

“Dih kasihan deh, gak punya teman buat tukar pikiran kali ya…”

Mungkin ada yang berargumen seperti itu, kalau tindakan menyindir itu hanya demi menghindari pertengkaran yang tidak dibutuhkan. Tapi apa kamu yakin kesan itu yang akan dimengerti orang-orang? Hanya menyindir tanpa berani menyelesaikan pokok permasalahan membuatmu nampak tidak becus dalam menghadapi suatu rintangan. Kamu terlihat bagai orang berpikiran kerdil yang cuma berani mencak-mencak di balik lindungan anonimitas semata.

“Nyindir gue? RT @lamis: Duh, enak banget ya kerja sambil nyanyi-nyanyi. Nggak tahu apa ya yang denger rasanya pengen bunuh diri!”

“Haha iya, aku juga! Udah un-follow malah…”

“@lamis: Duh, enak banget ya kerja sambil nyanyi-nyanyi. Nggak tahu apa ya yang denger rasanya pengen bunuh diri!”

Apakah kamu masih mau mengalami semua kerugian itu? Lebih baik sudahi kebiasaan menyindirmu dari sekarang.

“Aku hanya ingin menghindari konfrontasi tidak penting.”

Akhirnya kamu jadi sering sensi, merasa celotehan tanpa mention di sosial media mereka ditujukan buatmu sendiri. Semua karena kamu terbiasa berpikir “Kalau jadi dia, ya aku juga bakal kayak gitu!” Ketika kamu konfrontasi lalu terbukti itu bukan tentang dirimu sendiri, mau ditaruh di mana mukamu nanti?

tak lebih dari pengecut menyedihkan via giphy.com

Aksi yang juga disebut no mention ini patut kamu hindari dan sudahi, karena hanya keburukan-keburukan ini yang akan kamu tuai.