Online sports betting_Indonesia Lottery_Baccarat Mobile Download

  • 时间:
  • 浏览:0

“Ah, cucu Indonesian gambling is legalneneIndonesian gambling is legalk ini memang suka berlebihan nak.”

“IIndonesian gambling is legalya nenek tidak apa-apa. Boleh saya mencobanya?” nenek memberikan satu potong ke Yuniza.

“Begitu ya, Yumna sudah bilang terimakasih tadi?”

“Empat tahun. Dia ingin sekali sekolah. Di tahun ajaran baru nanti usianya lima tahun. Kamu akan membantuku kan?”

“Lalu apa yang ingin dilakukan oleh kekasihku yang cengeng ini?” Zaki mencubit pipi Yuniza.

“Dari mana kamu tahu?”

“Yumna kak. Nenek bilang artinya diberkahi. Nama kakak siapa?”

“Darimana Yumna mendapatkan balon ini? dua lagi.”

“Dia anak yang pintar nek, apa dia sudah mulai sekolah paud?”

“Dari kak Yuniza.”

“Iya, kita akan carikan sekolah yang baik untuknya dan membelikan semua peralatan sekolah yang dibutuhkannya. Tapi apa kamu tidak ingin mengenalkan aku dengan gadis kecil itu?”

“Tidak, tapi aku sudah meminta alamatnya. Kita akan mencarinya nanti.”

“Aku juga berterimakasih untuk kemeja baru ini” mereka tersenyum.

“Tidak nenek Yumna tidak memintanya, saya yang memberikannya karena Yumna anak yang manis.”

“Iya lomba mewarnainya sudah selesai” Yumna bersedih.

“Iya. Lalu kamu menyukainya?”

“Janji akan membantuku?”

Yuniza sudah bekerja di sebuah perusahaan media cetak. Zaki juga sudah bekerja di perusahaan susu dan hari ini ia dan teman-temannya sedang mengadakan lomba yang merupakan salah satu program untuk mempromosikan susu dari perusahaan mereka. Berhubung Yuniza kerjaannya tidak begitu terikat dan hari ini tidak banyak berita yang harus ia periksa maka ia menyempatkan diri untuk hadir di acara ini.

“Iya nenek sama-sama.”

“Iya untukmu, ambillah.”

“Iya teman-teman kakak yang disana pasti sudah kelaparan. Acaranya sudah selesai mereka pasti ingin makan.”

“Aku tidak tahu kak. Nenek apakah nenek mau memberikan alamat rumah kita kepada kak Yuniza?”

“Iya kak, aku suka sekali. Mewarnai gunung, burung, awan apalagi matahari yang bercahaya.”

Yuniza langsung menuju lokasi perlombaan di area tengah taman yang dikelilingi dengan kursi yang melingkar.

“Yumna ini siapa?” tanya nenek saat melihat cucuknya bersama Yuniza.

“Iya, hati-hati.”

“Sudah nenek. Bagaimana kak rasa donat nenek?”

“Aku disini saja kok. Tadi kesana sebentar membeli donat, ini” Yuniza memberikannya.

“Itu disana yang baju merah itu kak” Yuniza mengikuti arah telunjuk gadis kecil ini. Arahnya tertuju pada seorang perempuan tua yang tengah duduk dengan sebuah kotak bewarna putih dengan ukuran 60×60 cm.

“Kamu mau membantuku?”

“Kakak aku mau kesana lagi ya, mau melihat lomba mewarnainya.”

Melihat senyum di wajah kecil Yumna membuat Yuniza sangat bahagia. Bahkan air mata jatuh begitu saja ke pipinya setiap kali Yumna memeluknya erat. Pertemuan mereka tidak disengaja. Sejak bertemu, Yuniza menemui bahagia yang rasanya sangat berkah. Yumna gadis kecil yang polos dan riang. Mereka bertemu pertama sekali saat Yuniza menemani temannya yang mengadakan beberapa kegiatan untuk diikuti oleh anak-anak di Taman Kota dalam memperingati hari ulang tahun kota. Hari itu Yumna tengah duduk termenung di bangku taman memperhatikan anak-anak lainnya sedang lomba mewarnai. Yumna cantik sekali dengan baju kembang bewarna merah jambu, rambut pendek sebahu yang dihias dengan bendo bewarna cokelat.

“Kak, boleh kak aku meminta sesuatu?” Yumna memegang tangan Yuniza.

“Iya, aku tidak ingin melihatmu bersedih karena orang tuanya tidak akan memberikan anak mereka padamu. Bisa-bisa nanti kamu tidak akan mengembalikannya” Zaki tertawa.

“Iya sayang, nenek akan memberikannya tapi nenek tidak punya kertas.”

“Kamu sudah tahu rumahnya?”

“Oh iya? Ada dimana nenekmu?”

“Boleh. Maukah kamu menemani kakak?”

“Tentu, kita akan bertemu lagi. Kakak akan main ke rumahmu.”

“Aku beli semuanya ya nek, untuk teman-temanku mereka harus nyobain donat yang lezat ini.”

“Yumna itu berapa tahun?”

Yumna datang lagi. “Kakak membeli semua donatnya?”

“Ini kak Yuniza mau nyobain donat nenek yang enak itu.”

“Yumna itu berapa tahun nek?”

“Sebutkan saja nek, saya akan mencatatnya di dalam note yang ada di ponsel. Baiklah Yumna sampai ketemu lagi.”

“Benarkah?”

“Donat? Jadi donat ini buatan neneknya?”

“Iya tentu. Aku akan menyusul, ingat sisakan untukku.”

****

“Kamu dengan siapa disini?”

“Kamu marah?”

“Apa kita akan bertemu lagi kak?”

“Terimakasih. Berikan pada teman-teman yang lain.”

“Wuah, seperti matahari dong kak” mereka tertawa.

Laki-laki ini bernama Zaki. Ia sudah menjadi teman dekat Yuniza sejak mereka masih mahasiswa di tingkat 3. Mereka saling mendukung sampai saat ini. Hubungan mereka sudah berjalan lima tahun. Sudah satu tahun setelah kuliah mereka selesai dan mereka masih dengan kedekatan yang sama.

“Wah, benar-benar enak.”

“Yumna sudah menjadi yatim piatu sejak usianya dua tahun. Ibunya meninggal saat melahirkanya tak lama setelah itu ayahnya menyusul karena sakit. Begitu takdir menyatukan kembali cinta mereka yang hanya sanggup berpisah sebentar saja. Sejak itu neneklah yang menjaga Yumna sampai sekarang. Kami hidup dari hasil jualan donat ini. Senyum riang Yumna selalu membuat nenek sangat bersemangat untuk membuat banyak donat.”

“Iya janji” mereka saling mengikat kelingking.

“Kamu kenapa?”

“Aku tidak bohongkan kak?”

“Tidak, baiklah aku akan berikan ini pada teman-teman yang lain” Yuniza tersenyum manja.

“Yumna nenek kan tidak pernah mengajarkan untuk meminta kepada orang lain.”

“Untukku?”

“Dia di taman dengan neneknya. Menemani neneknya menjual donat. Orang tuanya sudah meninggal.”

“Baiklah. Ayo kak” Yumna memberikan tanggannya pada Yuniza seolah ia anak kecil. Yuniza tersenyum memegang tangan Yumna.

“Jangan menghilang lagi.”

“Yuniza”

“Maaf sebelumnya nek, orang tua Yumna dimana?”

“Baiklah.”

“Iya, jika kamu mau memberikan alamat rumahmu.”

“Zaki, terimakasih sudah membantuku.”

“Apa?”

“Dari mana saja kamu?” tanya seorang laki-laki yang brewokan.

“Bolehkah aku memeluk kakak?”

“Yumna anak yang benar-benar manis. Kalau boleh tahu nenek tinggal dimana?”

“Iya, namanya Yumna.”

“Zaki” Yuniza geram.

“Tinggal dua puluh lagi nak” nenek membuka tutup kotak putih yang dipegangnya.

“Belum nak. Nenek belum ada biaya untuk menyekolahkannya. Sekarang baru mengumpulkan uang semoga saja bisa menyekolahkannya di usia lima tahun besok nanti bertepatan dengan tahun ajaran baru apalagi kalau untuk Paud itu pendaftarannya lebih awal daripada SD. Yumna juga sudah sering minta di sekolahkan tapi apa lah yang bisa nenek lakukan selain mengatakan “Iya Yumna pasti akan sekolah.”

“Artinya apa kak?”

“Tadi aku bertemu seorang anak kecil di taman.”

“Di rumah kecil peninggalan kakek Yumna. Untunglah rumah tidak lagi menyewa jadi uang hasil jualan sedikit demi sedikit bisa nenek sisihkan ke dalam celengan” air mata menggenang di mata nenek.

“Iya.”

“Iya Zaki. Dia riang sekali.”

“Aku ingin menyekolahkannya. Yumna dan neneknya pasti sangat senang jika Yumna bisa masuk sekolah di tahun ajaran baru nanti.”

“Terimakasih Zaki, iya. Minggu depan kita akan kesana dan memberi tahu Yumna kabar gembira ini.”

“Baiklah nak, terimakasih sekali.”

“Nama kamu siapa?”

“Terimakasih kakak” Yumna tersenyum.

“Dengan nenek.”

“Ibuku bilang artinya cahaya”

“Ini untukmu” Yuniza memberikannya.

“Kamu suka mewarnai dik?” tanya Yuniza setelah duduk di sampingnya.

“Iya. Siap bos.”

“Iya, rasanya benaran enak.”

“Tentu. Aku tidak mau melihat senyummu menjadi kecut.”

“Nanti saat kita sudah menikah kita akan buat anak yang banyak.”

“Apa aku pernah marah denganmu?”

“Oh iya? Lalu kenapa kamu tidak ikutan lomba itu?” Yumna diam dan menundukkan kepalanya. Saat aku melihatnya ia menahan air mata di kelopak matanya yang besar. Yuniza tidak ingin melihat air mata itu jatuh ia langsung berlari ke tukang balon yang berada satu meter dari tempat duduk mereka. Dibelinya dua buah balon boneka bewarna merah jambu.

“Empat tahun nak.”

“Nek, donatnya masih banyakkah?” Yuniza menyadari itu dan berusaha mengalihkannya.

“Nenek kamu yang jualan itu?”

“Terimakasih nak.”

“Tentu.”

“Jangan lari-lari Yumna” teriak neneknya melihat Yumna yang berlari.

“Iya kakak. Nenek jualan kue donat yang enak banget. Apa kakak mau mencobanya?”

“Dia tidak punya orang tua.”